Jumat, 12 Oktober 2012

makalah kepemimpinan menurut hindu



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kewajiban generasi muda adalah melestarikan warisan dari para pendahulunya, warisan Ilmu dan budaya yang bermanfaat bagi kehidupan ini. Negeri Eropa, Cina, India, Jepang adalah negara-negara yang sangat menghormati pendahulunya, mereka rajin mendokumentasikan pernik-pernik ilmu dan budaya sehingga bisa diwarisi hingga kini.
Berbicara mengenai kempemimpinan/leadership kita tidak lepas dari dua kata kapabilitas (kemampuan) dan akseptabilitas (diterima). Pada dasarnya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu perkumpulan, yakni sebagai Pemimpin atau sebagai yang dipimpin yang lazim di sebut anggota. Sebagai anggota yang baik, kita harus memiliki loyalitas, patuh dan taat pada perintah atasan sebagai pemimpin dan rela berkorban serta bekerja keras untuk mendukung atasan dalam pencapaian tujuan yang dalam ajaran agama Hindu, disebut Satya Bela Bhakti Prabhu.
Sedangkan sebagai pemimpin, harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memimpin (kapabilitas) serta dapat diterima oleh yang dipimpin ataupun atasannya (akseptabel). Menurut falsafah bali ada yang disebut dengan Tri Kaya Parisudha  artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika)
Kemampuan dalam arti mampu memimpin, mampu mengorbankan diri demi tujuan yang ingin dicapai, baik korban waktu, tenaga, materi dll serta dapat diterima, dalam arti dapat dipercaya oleh anggota masyarakatnya dan pejabat yang di atasnya.
1.2 Rumusan Masalah
            Dalam makalah ini menjelaskan tentang falsafah Tri Kaya Parisuda sebagai landasan menjadi seorang pemimpin dan sikap seorang pemimpin dalam penyelesaian konflik yang terjadi.
1.3 Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
            1. Untuk menyelesaikan tugas pelatihan kepemimpinan,
2. Memahami tentang falsafah Tri Kaya Parisudha sebagai landasan seorang pemimpin.    
3. Mengetahui cara untuk penyelesaian konflik yang terjadi.
BAB II
Pembahasan
2.1 Kriteria Pemimpin
Sebagai seorang pemimpin wajib memilik prinsip dasar yang menjadi pegangan, tidak sembarang orang bisa menjadi seorang pemimpin, adapun kriteria seorang pemimpin menurut kitab Niti Sastra:
  1. Abhikamika
    Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke bawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongannya.
  2. Prajna
    Pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi, agama serta dapat dijadikan panutan bagi rakyatnya.
  3. Utsaha
    Pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreatif dan inovatif (pelopor pembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyat.
  4. Atma Sampad
Pemimpin mempunyai kepribadian : berintegritas tinggi, moral yang luhur serta obyektif dan mempunyai wawasan yang jauh ke masa depan demi kemajuan bangsanya.
  1. Sakya Samanta
Pemimpin sebagai fungsi kontrol mampu mengawasi bawahan (efektif, efisien dan ekonomis) dan berani menindak secara adil bagi yang bersalah tanpa pilih kasih/tegas.
  1. Aksudra Pari Sakta
Pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan permusyawaratan dan pandai berdiplomasi, menyerap aspirasi bawahan dan rakyatnya.
Saat ini negeri kita mangalami krisis para pemimpin sejati, yang bener-benar memimpin menggunakan logika dan hati, menggunakan keahliannya memimpin guna mewujudkan tujuan bersama yaitu kemakmuran dan sejahteraan bersama.
2.2 Falsafah Kepemimpinan di Bali
       Menurut orang bali yang mayoritas beragama hindu memiliki falsafah yaitu “TRI KAYA PARISUDHA” yang artinya adalah Tri berarti tiga; Kaya bararti Karya atau perbuatan atau kerja atau prilaku; sedangkan Parisudha berarti "upaya penyucian".Jadi "Trikaya-Parisudha berarti "upaya pembersihan/penyucian atas tiga perbuatan atau prilaku kita". Jadi Sebagai seorang pemimpin harus memiliki pemikiran yang jernih terlebih dahulu supaya dalam membuat kebijakan dapat mensejahterakan masyarakat dan dalam bertutur kata yang baik karena seorang pemimpin menjadi panutan bagi anggotanya serta memiliki perilaku yang baik.
            Tri Kaya Parisudha terdiri dari 3 bagian yaitu:
            1.  Penyucian pikiran (manacika)
            2.  Penyucian perkataan (wacika)
            3   Penyucian perbuatan (kayika)

2.2.1 Manacika
Inilah tindakan yang harus diprioritaskan, karena pada dasarnya semua hal bermula disini. Ia menjadi dasar dari prilaku kita yang lainnya (perkataan dan perbuatan); dari pikiran yang murni akan terpantul serta terpancarkan sinar yang menyejukan orang-orang disekitar kita, sebaliknya pikiran keruh akan meruwetkan segala urusan kita, walaupun sebenarnya tak perlu seruwet itu. Tentu ruwet tidaknya suatu permasalahan, amat tergantung padacara kita memandang serta cara kita menyikapinya.
Bila pandangan kita sempit dan gelap, semuanya akan menjadi sumpek dan pengap. Sebaliknya bila pandangan kita terang, segala hal akan tampak jelas sejelas-jelasnya. Ibarat mengenakan kacamata, penampakan yang diterima oleh mata amat tergantung pada kebersihan, warna bahan lensanya, serta kecangihan dari bahan lensanya. Jadi, apapun adanya suatu keberadaan, memberikan pancaran objektif bagi kita, namun kita umumnya tidak dapat menangkapnya dengan objektif.
Pandangan kotor akan menampakkan objek kotor dan tidak murni dimata kita. Apabila cara pandang serupa itu kita gunakan memandang berbagai fenomena hidup dan kehidupan, tentu hidup kita menjadi ruwet, menimbulkan duka-nestapa, serta berbagai kondisi-kondisi pikiran negatif. Hal inilah yang terjadi dalam pikiran kita. Pikiran kita menjadi kotor dan suram pandangan kita sendiri. Untuk itu hanya kita sendiri yang dapat membersihkannya. Hal ini dalam Hindu disebutkan :"tak ada makhluk dari alam manapun yang dapat menyucikan batin kita, apabila kita sendiri tidak bergerak dan berupaya kearah itu, terlebih benda-benda materi, tentu tak mungkin menyucikan siapa-siapa".
Untuk menyucikan pikiran, perlu memperbaiki pandangan terlebih dahulu. Untuk memperbaiki pandangan, diperlukan pemahaman yang baik dan mencukupi tentang falsafah ajaran agana yang dapat dipelajari dari kitab suci dan bimbingan guru. Melalui hal tersebut, banyak kegelapan dan kegalauan batin kita menjadi sirna, terbitnya cahaya terang dalam batin melalui bimbingan beliau, membantu mempercepat proses menuju tujuan akhir.  
Tiga macam implementasi pengendalian pikiran dalam usaha untuk menyucikannya, disebutkan di dalam Kitab Saracamuscaya, adalah:
1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak layak atau halal.
2. Tidak berpikiran negatif terhadap makhluk lain.
3. Tidak mengingkari HUKUM KARMA PHALA.
Demikianlah disebutkan didalam salah satu Kitab Suci umat Hindu, bila kita cermati inti dari tiga hal di atas adalah bahwa dengan faham karma phala sebagai hukum pengatur yang bersifat universal, dapat membimbing mereka, yang meyakininya untuk berpola pikir yang benar dan suci.

2.2.2 Wacika
Terdapat empat macam perbuatan melalui perkataan yang patut di kendalikan, yaitu:
1. Tidak suka mencaci maki.
2. Tidak berkata-kata kasar pada siapapun.
3. Tidak menjelek-jelekan, apalagi memfitnah makhluk lain.
4. Tidak ingkar janji atau berkata bohong.
Demikianlah disebutkan dalam Kitab Sarasamuscaya; kiranya jelas bagi kita bahwa betapa sebetulnya semua tuntunan praktis bagi pensucian batin telah tersedia. Kita harus dapat menerapkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

2.2.3 Kayika
Penyucian perbuatan fisik dan perilaku (KAYIKA).
Terdapat tiga hal utama yang harus dikendalikan, yaitu:
1. Tidak menyakiti, menyiksa, apalagi membunuh-bunuh makhluk lain.
2. Tidak berbuat curang, sehingga berakibat merugikan siapa saja.
3. Tidak berjinah atau yang serupa itu.

Demikianlah sepuluh hal penting dalam pelaksanaan Tri Kaya Parisudha sesuai dengan apa yang dijabarkan dalam kitab Saracamuscaya. Pengamalan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan untuk membentuk karma serta hubungan yang baik antar sesama.
Menurut pemaparan diatas berawal dari pemikiran yang suci maka akan mengeluarkan perkataan dan perilaku yang suci(baik), seorang pemimpin sangat perlu menerapkan falsafah Tri Kaya Parisuda,

2.3 Penerapan Tri Kaya Parisuda
           
Untuk penerapan ajaran/filsafat Trikaya Parisuda dalam penyelesaian masalah/konflik yang terjadi. Contoh konflik yang terjadi diaerah Karangasem-Bali yang tepatnya di Kecamatan Manggis, konflik yang terjadi karena permasalahan batas desa, antara desa Antiga dengan desa Sedaan. Konflik ini banyak menimbulkan kerugian baik kerugian materi dan moril, karena mengakibatkan perang antar desa. Untuk menyelesaikan masalah tersebut Camat setempat perlu turun tangan unuk menyelesaikan konflik tersebut, Camat sebagai pemimpin wilayah memiliki tanggung jawab penuh atas kejadian yang terjadi diadaerahnya. Agar masalah ini bisa selesai didatangkan tokoh adat dan pihak-pihak yang terkait dari ke-2 desa yang mengetahui sejarah perbatsan/sejarah desa, sehingga dapat diketahui mana batas desa yang sebenarnya.    
Sehingga camat yang sebagai pemimpin wilayah memiliki prinsip dasar Tri Kaya Parisuda dapat mebuat kebijakan berdasar pemikiran yang jernih dan bertutur kata yang baik sehingga mengeluarakan keputusan batas desa sesuai dari keterangan ke-2 tokoh adat yang sudah melakukan perundingan dengan camat, dan membuat perjanjian mengenai batas desa yang ditanda tangani oleh camat setempat.


BAB III
PENUTUP
3. Kesimpilan
            Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap pemimpin ataupun sebagai anggota wajib memiliki dasar Tri Kaya Parisuda karena sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak(masyarakat) dimulai dari pemikiran suci dapat mengeluarkan perkataan dan melakukan tindakan yang benar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar